Tuesday, August 7, 2012

Putri Jangan Pergi


Sebenarnya aku ingin meperbudak matahari
Memiliki setiap centi dari malam, hingga menikmati kopi bertahtakan bulan
Kemudian kubendung aliran waktu
Lalu menggila di bawah langit hitam bersamamu

Sayang, mari kita lupakan khayalan
Aku bukanlah sang waktu yang miliki semua detiknya dunia
Aku sang penyair, yang karena puisinya
Bisa merobek celah dalam sungai berdetik kencang olehnya pena
Untuk mencuri sekejap denganmu
Melepas rindu, melontar senyum
Sekedar menggandeng mesra putri seperti biasa
Pada secuil jeda yang kucuri dari waktu
Bukan untuk nafsu
Hanya sesederhana rindu
Karena aku, ingin kamu, ingin sekali 

Sendirinya Pergi.........

Aku bukan siapa, sedang nikmati pedih sendirinya, nyaman muakkan hatinya
Bukan karena benci, bukan asmara, bukan pula tetek bengek hati
Aku muak malam ini karena aku tak memiliki  dan setiap detiknya aku merugi merindu
Merugi merindu atas suatu yang tak pernah aku miliki bahkan bisikkan dalam hati

Beruntungnya Membaca Sebelum Dibaca


Kemarin aku berjalan menuju tapal batas hidupku
Tapi syaraf hentikan tapakku
Aku sadar kumelupakan sesuatu
Pada ujung tempatku berlabuh lalu

Hari ini aku mencari apa yang kulupakan tadi
Yang aku ingat hanyalah aku patah hati
Oh ternyata hal yang duniawi sekali
Aku telah berlaku rugi pada diri sendiri

Besok aku yakin aku akan menulis tentang sebuah cerita
Dimana aku pemeran utama dan kamu kekasihnya
Betapa bodoh aku terpaku, kamu tetap duniawi cinta
Lalu semua kembali pada semu di ujung dunia

Kubersujud pada pencipta alam, saat peralihan malam
Deru getar hati tiap ayat memberi jawaban pada akal
Betapa mengejar dunia adalah fana, dan menyesallah adanya
Harusnya aku seperti kelinci putih lucu yang memancingmu memberinya wortel yang segar
Meninggikan kualitas ketuhananku sehingga duniawipun menyertai langkahku

Saturday, August 4, 2012

Mumbling.....


Aku menulis karena orang di sekelilingku menulis
Salah satu temanku menulis tentang takdir
Tapi aku tidak setuju dengannya
Dia memiliki pendapat yang berbeda denganku tapi aku tak merasa perlu merubah pikirannya
Karena manusia lahir dengan pemikirannya, yang unik, dan itu yang membedakan kita, bukan?
Maka bukan hak kita untuk merubah seseorang tanpa alasan yang jelas, apalagi kepuasan diri sendiri.
Memang kebenaran hanya ada satu, kita manusia, tidak selalu tahu mana yang benar dan yang salah, dan kita tidak diwajibkan slalu benar, karena yang maha benar itu ada, ya kalian sudah tahu siapa, maka pujilah dan percayalah padaNYA.
Oh, aku teringat tentang salah satu puisiku, “maka percakapan kita sedang baik saja, bukan?”
Aku baru sadar bahwa kita sudah tidak memiliki percakapan apapun, jarak membisukan, sebuah insiden memecahkan, aku benci dengan sok bijakmu, kamu benci aku, tapi aku takkan pernah memutus silaturahmi, terlalu konyol untuk itu.
Sudah lama aku ingin bercakap – cakap dengan teman – teman yang tak pernah kutemui, and i just did, here in this university,” life is as fascinating as always, you just need to try to see it from every point-of-view to see its beauty” itu adalah bukan kalimat pertama yang kubayangkan saat menulis hal ini.
Dan manakala teman kita bertambah, membagi waktu adalah hal yang susah, maka gunakan waktu sebijak mungkin kawanku, kita tidak akan pernah tau apa yang telah kita lewatkan, and as you know “time is as sad as a river, it flows one way, and can never flow backwards, time has it pleasanty to make you sad, and grieve in regret
Haaa, enough with the sad and gloomy atmosphere, its good to live alone in this big and confusing city, you always get what you never expected.
I have the feeling that if i can not control myself, it would be the end for me, well, God help me, please.
I have no intentions in getting on a romantic relationship with anyone here, but the temptations are always there to bother, devils sure are an evil, and humans are humans, lets not fall to their temptation.
Oh, try to listen to White Shoes and The Couples Company for you who adores and respects the old-school, worth to listen.

Belati Tepi Nadi


Ada perang bahkan di belakang rumahku
Mereka nyatakan hati pada pucuk belati
Bukan maksut telah aku berlari
Tapi siapa yang mau mati?
Aku sudah tidak kenal dunia ini
Bukan hanya asing, tapi sudah lain
Yang mana kutahu bahwa risala hati tidak butuh adanya sobekan nadi
Maka lebih baik puisikan sayang kemudian mati kelaparan
Daripada lupakan diri lalu mati berbagi sedih, tanpa punya hati
Ada kakek menghisap sebatang kretek berteriak kepadaku
“mengapa tak ingat mereka akan apa itu indah, seperti yang diajarkan ibu – ibu mereka, pada damainya suatu masa”